Sabtu Malam
Kau yang di seberang sana, yang jauh disana, yang tak bisa ku lihat meskipun retinaku ini masih bisa menerima bayangan cahaya yang aku rasakan dan aku nikmati untuk menyaksikan indahya dunia setiap hembusan nafas sempai detik ini.
Namun tidak untuk dirimu, tidak untuk bayangan cahaya wujudmu yang aku coba lihat sekarang, "Gelap... ya itulah yang jatuh di retina ku, tidak ada satupun wujud yang nyata di hadapanku untuk ku lihat dirimu saat ini, adapun itu hanya bayangan hanya imajinasi ku yang lagi lagi datang lagi menemaniku.
Malam ini teringat lagi semua kenangan yang telah kulalui bersamamu, hangat pelukmu yang selalu ku rindu didalam hari hariku yang telah ku lalui, akankah tinggal kenangan untukku, hari hariku bersamamu? Kutak akan kuasa menghapus segalanya dari hatiku.
Sabtu malam lagi kunikmati sendiri saat jarak mulai memisahkan kita hingga sekarang. Sabtu malam hadirkan bayangmu kembali, takkan ku lupa kaulah satu yang ku simpan di hatiku sampai kini, Sabtu malam didalam ku sendiri kini terbayang semua kenangan tentangmu bersamaku.
Tuhan aku merindunya dan aku ingin melihatnya, Aku ingin berjumpa dengannya.
Masa-masa saat itu begitu indah, sejenak akan kesenangan dan bahagia yang kurasakan saat aku menolehnya, tapi bukankah hidup ini dijalani untuk maju bahkan tak ada sedetikpun waktu yang akan terputar kembali, layaknya kepala yang diciptakan oleh Tuhan menghadap kedepan yang tidak bisa menoleh kebelakang dengan sempurna.
Tidak lagi aku mengeluh, tidak lagi aku memaksa untuk menoleh, aku akan menikmati waktu sekarang apapun keadaanya dengan harapan masa depan lebih pantas diharapkan daripada masa lalu yang sangat diinginkan.
Sabtu malamku ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar