Masa kecil saat itu..
“Kak, Ayo main ! “ Teriak Jessi mengajak Jessa saudara kembarnya.
“Iya ssi ayo kita main tapi dihalaman belakang saja” Sahut
jessa meng iya kan ajakan adiknya saat itu. Dan hampir setiap hari mereka
selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain. Memang tidak semua manusia di
anugrahi oleh Tuhan mempunyai anak atau suadara yang kembar seperti mereka.
Jessa dan Jessi adalah anak sulung dari keluarga kecil
mereka, tetapi mereka bukan anak pertama dari ayah ataupun ibunya, mereka
terlahir di pernikahan kedua baik ayahnya ataupun ibunya, keduanya sudah pernah
menikah sebelumnya, dan Ovi adalah adik
dari Jessa dan Jessi, mereka bertiga adalah saudara kandung tetapi Ovi berbeda
tidak seperti kakak kembarnya yang selalu saling curhat dan bermain bersama.
Jessa begitu dewasa sebagai kakak dari kedua adiknya, terlebih
lagi terkadang Jessi yang sama umurnya dengan Jessa selalu manja terhadap
Jessa. Tetapi sejak kecil Jessa terlahir
lebih lemah karena saat bayi Jessa sudah masuk rumah sakit karena mempunyai
penyakit yang membuat perutnya sering sakit hingga akhir sekolah dasar masih
sering dirasakan, begitupun juga Jessi dia juga lemah tetapi tidak seperti
kakaknya yang sering kambuh. Namun tidak buat Ovi, Ovi adalah anak yang kuat
dan sehat bahkan tangguh sekali sampai dewasanya saat ini.
Sejak mulai dari bangku sekolah mulai dari TK hingga SMA
Ayahnya selalu menyatukan mereka disekolah yang sama bahkan kelas yang sama.
Teman-temannya begitu menyayangi mereka karena kekompakkannya dan keramahan
mereka berdua hingga suatu saat waktu SMA di adakan study tour sebagai kegiatan
yang telah rutin dilaksanakan setiap tahunnya, namun karena Jessa dan Jessi
termasuk keluarga yang kurang mampu untuk mengikuti kegiatan tersebut mereka
membutuhkan dana 2 kali lipat bagi orang
tuanya untuk mengikuti kegiatan itu. Ayahnya hanya mampu mengikutkan salah satu
dari mereka sepertinya hanya Jessa yang bisa berangkat. Teman-temannya
mengetahui akan hal itu si kembar tidak bisa ikut semua. Tanpa sepengetahuan
Jessa dan Jessi sahabat-sahabat ternyata telah merencanakan sesuatu mereka
mengumpulkan dana untuk bisa membayar satu lagi supaya si kembar bisa ikut
kedua-duanya. Dan itu membuat si kembar sangat terharu dan merasa sangat
bahagia sekali mempunyai teman-teman yang sangat perduli dengan keadaan latar
belakang keluarganya.
Masa SMA itu begitu indah begitu menyenangkan dengan
teman-temannya bagi si kembar, namun setelah lulus masih ada tunggakan biaya
yang belum sanggup di bayar oleh Ayah Jessa dan Jessi hal itu membuat Ijazah
keduanya tidak bisa diambil dan masih ditahan oleh pihak sekolah karena
belum bisa melunasi biaya selama 3 tahun menempuh Sekolah Menengah Atas.
Mereka bingung tetapi hanya bisa pasrah, pekerjaan apa yang
bisa di cari walaupun mereka lulusan SMA tetapi tidak ada Ijazah yang ada di
tangan sebagai salah satu syarat untuk dipenuhi secara umum. Beberapa waktu ada
tetangga yang akhirnnya menawari pekerjaan yang tidak perlu sampai membawa
ijazah tingkat SMA, memang hanya sekedar di toko kue di salah satu cabang
dikota Malang tapi hal itu membuat Jessa sangat antusias untuk bisa mulai
mencari uang sendiri. Ayahnya tidak mengijinkan sikembar berangkat semua saat
itu Cuma Jessa saja yang dibolehkan, Jessi sedih karena tidak bisa mengikuti
kakaknya. Setiap malam mereka hanya bisa menghubungi lewat telfon tidak ada bosan
bagi mereka saling bercerita tentang keadaan dirumah dan di tempat kerja Jessa.
Mulai ada sosok cowok bagi si kembar yang selalu dibahas disetiap perbincangan
mereka, entah itu Jessa dan Jessi mereka sudah memahami apa yang dirasakan
keduanya.
Pada suatu saat Ayah mereka mengijinkan Jessi menyusul Jessa
untuk bekerja di tempat yang sama. Senang sekali karena mereka bisa bercerita
langsung setiap hari tanpa lewat telfon saja. Jessa dan Jessi keduanya sudah
mempunyai pemilik hati mereka masing-masing walaupun pemilik hatinya lumayan
jauh untuk jarak bisa saling sering bertemu, mungkin hanya lewat telfon dan sms
saja saat itu. Beberapa bulan mereka nyaman menjalani profesi mereka di tempat
itu canda dan tawa kebersamaan ditempat luar mulai terekam dimemory si kembar. Tapi
suatu saat ada salah satu rekan seniornya yang harus pulang entah karena sebab
apa itu, tapi hal itu membuat semua teman-teman mulai memikirkan untuk pulang
juga termasuk Jessa dan Jessi akhirnya satu persatu mereka berhenti bekerja di toko
kue tersebut.
Satu bulan dirumah tiba-tiba Jessa sakit, penyakit masa
kecilnya kambuh satu minggu saat itu Jessa masih dirawat dirumah , Jessi sangat
setia menemani kakaknya yang sakit saat itu dan Ovi sedang berada dirumah
saudaranya sementara dia tinggal untuk bersekolah karena rumah saudaranya lebih
dekat dibanding rumahnya yang belasan kilo jaraknya dari sekolahnya.
Keadaan Jessa ternyata tidak kunjung membaik justru harus
disarankan untuk dirujuk kerumah sakit untuk menjalani rawat inap, dan terus
Jessi selalu ada disamping kakaknya dan Ibunya yang sangat cemas sekali dengan
keadaan Jessa, keluarga kecil mereka mulai disibukkan dengan situasi di Rumah
sakit untuk beberapa hari dan kehadiran kerabat yang mulai menengok Jessa
termasuk pemilik hatinya. Jessa merasa ada kekuatan saat itu dia bisa tersenyum
dan merasa lebih sehat lagi akhirnya, beberapa hari setelah di rumah sakit dokter
menyatakan Jessa akhirnya boleh pulang kerumah.
Jessi senang melihat keadaan kakaknya yang bisa dibawa
pulang walaupun belum sembuh total dan harus menjalani pengobatan dirumah. Tetapi
ternyata Jessa tak kunjung pulih juga Jessa semakin parah, dan harus dibawa
kerumah sakit lagi namun rumah sakit yang sebelumnya hanyalah rumah sakit
daerah yang kecil dan tidak mampu lagi menangani Jessa sehingga itu menyarankan
Jessa untuk lebih ditangani kerumah Sakit lebih besar. Itu pun belum cukup
mampu menangani keadaan Jessa yang semakin parah dalam beberapa minggu saja,
Akhirnya Jessa pun harus dirujuk ke Surabaya R.S Dr.Soetomo, Jessi sangat sedih
melihat kembaranya teman kesehariannya sekarang terbaring lemah tak sanggup
bercanda tawa dengannya seperti biasanya,.
Suara si kembar ini bagus saat mereka bernyanyi walaupun
lebih sering Jessa yang hobbi menyanyi tetapi suara Jessi tidak kalah bagus
dari kakaknya, hingga waktu itu Jessa meminta kepada adiknya untuk dinyanyikan
lagu dari Sherina Munaf lagu favorite nya. Membuat tetangga yang sama-sama
dirawat di rumah sakit itu melihat semua kearah mereka berdua entah itu terharu
atau kasihan melihat Jessi yang sangat tidak mau terjadi hal yang tidak
diinginkan terhadap Jessa.
Takdir telah ditentukan oleh Tuhan, entah itu kelahiran dan kematian sudah ditetapkan
saat manusia belum dilahirkan di dunia ini. Detik detik itu membuat semua orang
tegang dan tidak bisa berkata apapun hanya Jessi yang mencoba menguatkan Jessa
untuk bertahan dan Ibu Jessa yang tak henti-henti berdo’a memohon kesembuhan
untuk anaknya begitupun Ayahnya, sedangkan adik bungsunya Ovi tidak bisa ada di
sana. Ayah, Ibu, Jessi dan Dokter mulai panik saat melihat Jessa yang setengah
sadar itu mulai ngelantur omongan yang dikeluarkan dari mulutnya, dokter laki-laki yang bermaksud untuk
memberikan obat denga disuntik justru dimarahi dan dicaci maki karena merasa
dokter itu kurang ajar jika akan menyentuh Jessa, Sedih, bingung campur aduk
Jessi menangis melihat keadaan kembarannya seperti itu, hingga akhirnya Jessa
telah menghembuskan nafas terakhirnya hari itu. Jessi linglung dia tak percaya
kenapa sesingkat ini,
“bagaimana bisa aku hidup tanpamu kak ?, sejak kecil kita
selalu bersama, cuma kamu yang selalu ada dan terus menemaniku, jika kamu pergi
aku sama siapa ?”
Sesaat itu Jessi
mengabari adiknya Ovi yang sedang berada dirumah saudaranya saat itu. Sebelumnya
sekedar info untuk memberitahu agar Ovi
pulang kerumah sore itu juga agar Ovi tidak terlalu syok mendengar kabar sedih
tentang kakaknya. Tetapi justru Jessi yang tidak kuasa menahan emosinya saat
itu dengan mengirim sms
“Vi kita udah ga punya kakak lagi.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar