Minggu, 09 Februari 2014

Twenty years old.

Masa kecil saat itu..

“Kak, Ayo main ! “ Teriak Jessi mengajak Jessa  saudara kembarnya.
“Iya ssi ayo kita main tapi dihalaman belakang saja” Sahut jessa meng iya kan ajakan adiknya saat itu. Dan hampir setiap hari mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk bermain. Memang tidak semua manusia di anugrahi oleh Tuhan mempunyai anak atau suadara yang kembar seperti mereka.

         Jessa dan Jessi adalah anak sulung dari keluarga kecil mereka, tetapi mereka bukan anak pertama dari ayah ataupun ibunya, mereka terlahir di pernikahan kedua baik ayahnya ataupun ibunya, keduanya sudah pernah menikah sebelumnya, dan Ovi  adalah adik dari Jessa dan Jessi, mereka bertiga adalah saudara kandung tetapi Ovi berbeda tidak seperti kakak kembarnya yang selalu saling curhat dan bermain bersama.
Jessa begitu dewasa sebagai kakak dari kedua adiknya, terlebih lagi terkadang Jessi yang sama umurnya dengan Jessa selalu manja terhadap Jessa. Tetapi sejak kecil  Jessa terlahir lebih lemah karena saat bayi Jessa sudah masuk rumah sakit karena mempunyai penyakit yang membuat perutnya sering sakit hingga akhir sekolah dasar masih sering dirasakan, begitupun juga Jessi dia juga lemah tetapi tidak seperti kakaknya yang sering kambuh. Namun tidak buat Ovi, Ovi adalah anak yang kuat dan sehat bahkan tangguh sekali sampai dewasanya saat ini.

        Sejak mulai dari bangku sekolah mulai dari TK hingga SMA Ayahnya selalu menyatukan mereka disekolah yang sama bahkan kelas yang sama. Teman-temannya begitu menyayangi mereka karena kekompakkannya dan keramahan mereka berdua hingga suatu saat waktu SMA di adakan study tour sebagai kegiatan yang telah rutin dilaksanakan setiap tahunnya, namun karena Jessa dan Jessi termasuk keluarga yang kurang mampu untuk mengikuti kegiatan tersebut mereka membutuhkan dana 2 kali lipat bagi  orang tuanya untuk mengikuti kegiatan itu. Ayahnya hanya mampu mengikutkan salah satu dari mereka sepertinya hanya Jessa yang bisa berangkat. Teman-temannya mengetahui akan hal itu si kembar tidak bisa ikut semua. Tanpa sepengetahuan Jessa dan Jessi sahabat-sahabat ternyata telah merencanakan sesuatu mereka mengumpulkan dana untuk bisa membayar satu lagi supaya si kembar bisa ikut kedua-duanya. Dan itu membuat si kembar sangat terharu dan merasa sangat bahagia sekali mempunyai teman-teman yang sangat perduli dengan keadaan latar belakang keluarganya.

          Masa SMA itu begitu indah begitu menyenangkan dengan teman-temannya bagi si kembar, namun setelah lulus masih ada tunggakan biaya yang belum sanggup di bayar oleh Ayah Jessa dan Jessi hal itu membuat Ijazah keduanya tidak bisa diambil dan masih ditahan oleh pihak sekolah   karena belum bisa melunasi biaya selama 3 tahun menempuh Sekolah Menengah Atas.

          Mereka bingung tetapi hanya bisa pasrah, pekerjaan apa yang bisa di cari walaupun mereka lulusan SMA tetapi tidak ada Ijazah yang ada di tangan sebagai salah satu syarat untuk dipenuhi secara umum. Beberapa waktu ada tetangga yang akhirnnya menawari pekerjaan yang tidak perlu sampai membawa ijazah tingkat SMA, memang hanya sekedar di toko kue di salah satu cabang dikota Malang tapi hal itu membuat Jessa sangat antusias untuk bisa mulai mencari uang sendiri. Ayahnya tidak mengijinkan sikembar berangkat semua saat itu Cuma Jessa saja yang dibolehkan, Jessi sedih karena tidak bisa mengikuti kakaknya. Setiap malam mereka hanya bisa menghubungi lewat telfon tidak ada bosan bagi mereka saling bercerita tentang keadaan dirumah dan di tempat kerja Jessa. Mulai ada sosok cowok bagi si kembar yang selalu dibahas disetiap perbincangan mereka, entah itu Jessa dan Jessi mereka sudah memahami apa yang dirasakan keduanya.

           Pada suatu saat Ayah mereka mengijinkan Jessi menyusul Jessa untuk bekerja di tempat yang sama. Senang sekali karena mereka bisa bercerita langsung setiap hari tanpa lewat telfon saja. Jessa dan Jessi keduanya sudah mempunyai pemilik hati mereka masing-masing walaupun pemilik hatinya lumayan jauh untuk jarak bisa saling sering bertemu, mungkin hanya lewat telfon dan sms saja saat itu. Beberapa bulan mereka nyaman menjalani profesi mereka di tempat itu canda dan tawa kebersamaan ditempat luar mulai terekam dimemory si kembar. Tapi suatu saat ada salah satu rekan seniornya yang harus pulang entah karena sebab apa itu, tapi hal itu membuat semua teman-teman mulai memikirkan untuk pulang juga termasuk Jessa dan Jessi akhirnya satu persatu mereka berhenti bekerja di toko kue tersebut.

          Satu bulan dirumah tiba-tiba Jessa sakit, penyakit masa kecilnya kambuh satu minggu saat itu Jessa masih dirawat dirumah , Jessi sangat setia menemani kakaknya yang sakit saat itu dan Ovi sedang berada dirumah saudaranya sementara dia tinggal untuk bersekolah karena rumah saudaranya lebih dekat dibanding rumahnya yang belasan kilo jaraknya dari sekolahnya.

          Keadaan Jessa ternyata tidak kunjung membaik justru harus disarankan untuk dirujuk kerumah sakit untuk menjalani rawat inap, dan terus Jessi selalu ada disamping kakaknya dan Ibunya yang sangat cemas sekali dengan keadaan Jessa, keluarga kecil mereka mulai disibukkan dengan situasi di Rumah sakit untuk beberapa hari dan kehadiran kerabat yang mulai menengok Jessa termasuk pemilik hatinya. Jessa merasa ada kekuatan saat itu dia bisa tersenyum dan merasa lebih sehat lagi akhirnya, beberapa hari setelah di rumah sakit dokter menyatakan Jessa akhirnya boleh pulang kerumah.

          Jessi senang melihat keadaan kakaknya yang bisa dibawa pulang walaupun belum sembuh total dan harus menjalani pengobatan dirumah. Tetapi ternyata Jessa tak kunjung pulih juga Jessa semakin parah, dan harus dibawa kerumah sakit lagi namun rumah sakit yang sebelumnya hanyalah rumah sakit daerah yang kecil dan tidak mampu lagi menangani Jessa sehingga itu menyarankan Jessa untuk lebih ditangani kerumah Sakit lebih besar. Itu pun belum cukup mampu menangani keadaan Jessa yang semakin parah dalam beberapa minggu saja, Akhirnya Jessa pun harus dirujuk ke Surabaya R.S Dr.Soetomo, Jessi sangat sedih melihat kembaranya teman kesehariannya sekarang terbaring lemah tak sanggup bercanda tawa dengannya seperti biasanya,.

         Suara si kembar ini bagus saat mereka bernyanyi walaupun lebih sering Jessa yang hobbi menyanyi tetapi suara Jessi tidak kalah bagus dari kakaknya, hingga waktu itu Jessa meminta kepada adiknya untuk dinyanyikan lagu dari Sherina Munaf lagu favorite nya. Membuat tetangga yang sama-sama dirawat di rumah sakit itu melihat semua kearah mereka berdua entah itu terharu atau kasihan melihat Jessi yang sangat tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Jessa.

         Takdir telah ditentukan oleh Tuhan, entah  itu kelahiran dan kematian sudah ditetapkan saat manusia belum dilahirkan di dunia ini. Detik detik itu membuat semua orang tegang dan tidak bisa berkata apapun hanya Jessi yang mencoba menguatkan Jessa untuk bertahan dan Ibu Jessa yang tak henti-henti berdo’a memohon kesembuhan untuk anaknya begitupun Ayahnya, sedangkan adik bungsunya Ovi tidak bisa ada di sana. Ayah, Ibu, Jessi dan Dokter mulai panik saat melihat Jessa yang setengah sadar itu mulai ngelantur omongan yang dikeluarkan dari mulutnya,  dokter laki-laki yang bermaksud untuk memberikan obat denga disuntik justru dimarahi dan dicaci maki karena merasa dokter itu kurang ajar jika akan menyentuh Jessa, Sedih, bingung campur aduk Jessi menangis melihat keadaan kembarannya seperti itu, hingga akhirnya Jessa telah menghembuskan nafas terakhirnya hari itu. Jessi linglung dia tak percaya kenapa sesingkat ini,

“bagaimana bisa aku hidup tanpamu kak ?, sejak kecil kita selalu bersama, cuma kamu yang selalu ada dan terus menemaniku, jika kamu pergi aku sama siapa ?”

         Sesaat itu Jessi mengabari adiknya Ovi yang sedang berada dirumah saudaranya saat itu. Sebelumnya  sekedar info untuk memberitahu agar Ovi pulang kerumah sore itu juga agar Ovi tidak terlalu syok mendengar kabar sedih tentang kakaknya. Tetapi justru Jessi yang tidak kuasa menahan emosinya saat itu dengan mengirim sms
“Vi kita udah ga punya kakak lagi.”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar